Saskindo Media, Samarinda – Direktur Utama PT Pertamina, Wicke Widyawati di Jakarta menyebut bahwa Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 Kilogram digunakan oleh 93 persen oleh penduduk Indonesia.
Hal itu diduga jadi penyebab harga tabung gas di daerah menjadi mahal dan sulit ditemukan masyarakat.
Itu pun menjadi pertanyaa, 93 persen dari pengguna tabung gas melon itu berasal masyarakat tidak mampu.
Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Provinsi Kaltim, HM Yadi Robyan Noor menyampaikan bahwa LPG 3 Kg perlu dinikmati oleh masyarakat yang sesuai peruntukannya.
Artinya, itu diperuntukkan kepada masyarakat kelas menengah bawah.
“Artinya, subsidi harus dinikmati oleh masyarakat yang berhak menerima,” kata Roby, Jumat (8/4/2022).
Ia menuturkan, pemerintah mengatur gas LPG 3Kg bersubsidi diperuntukkan bagi rumah tangga miskin dan para pelaku usaha mikro.
Tetapi, kata dia, ketersedian tabung gas melon itu aman dan tersedia di Kaltim sendiri. Dengan begitu, masyarakat tak perlu merasa khwatir akan kekurangan ketersediaan tabung.
“Estimasi stok cukup tersedia hingga 20 hari ke depan, kami siap operasi pasar bila ada daerah yang defisit berat,” terangnya.
Dengan harapan, yang membeli tabung gas melon ini merupakan masyarakat yang berasal dari kelas menengah bawah.
Artinya, masyarakat kelas menengah atas tak membeli tabung gas LPG 3 Kilogram.
“Masyarakat yang berhak saja yang membeli, yang tidak berhak jangan beli gas bersubsidi lah,” bebernya.
Lebih lanjut, pemerintah pusat juga berencana mengubah skema penyaluran subsidi LPG 3 kg menjadi berbasis target penerima.
Subsidi tak akan lagi diberikan kepada komoditi atau barang, tetapi langsung ke target penerima. Di mana target penerima diselaraskan dengan Data Terpadu Sosial Kesejahteraan (DTSK) dari seluruh Indonesia.
Karena hasil kajian penyaluran subsidi LPG 3 kg kurang tepat sasaran dan masih banyak warga mampu juga ikut berburu tabung gas bersubsidi.
(SM/AA)