Portal Berita Online & Advertising

Pemkab PPU Optimalkan Lahan Tidur untuk Wujudkan Swasembada Pangan

0 644

Saskindo Media, Penajam Paser Utara – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terus berkomitmen meningkatkan produktivitas pertanian dan mendukung swasembada pangan melalui berbagai terobosan, salah satunya dengan mengoptimalkan lahan tidur menjadi lahan pertanian produktif.

Salah satu bentuk nyata dilakukan melalui sinergi antara Kelompok Tani Jagung “Sawit Lestari” di Desa Giri Mukti dengan Polres PPU. Kegiatan ini didukung penuh oleh Pemerintah Kabupaten PPU, Kodim 0913 PPU, serta Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Holtikultura Provinsi Kalimantan Timur. Bertempat di lahan seluas 10 hektare di Jalan Raya Silkar, Giri Mukti, panen jagung bersama pun digelar.

Bupati PPU, Mudyat Noor, yang hadir langsung dalam acara tersebut, mengapresiasi semua pihak, terutama Pertamina yang telah meminjamkan lahan tidur untuk dijadikan lahan pertanian.

“Lahan ini hasil kerja sama dengan Pertamina, dan ini merupakan bentuk optimalisasi lahan tidur yang kini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Mudyat, Selasa (29/4/2025).

Ia menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor ini membuktikan komitmen bersama dalam memajukan pertanian di PPU, tidak hanya sebagai penghasil padi tetapi juga jagung dan komoditas lainnya. Ke depan, ia berharap sektor peternakan dan perikanan juga dapat dikembangkan secara terintegrasi.

Berdasarkan data dari petani, rata-rata hasil panen jagung di PPU mencapai 5,5 ton per hektare. Meski masih di bawah rata-rata nasional (7 ton/hektare), Mudyat yakin potensinya sangat besar asalkan didukung pemasaran yang baik.

“Petani sudah bekerja keras menanam, jangan sampai terbebani lagi dengan urusan penjualan. Pemerintah harus hadir sebagai katalis, terutama dalam pendataan produksi dan hilirisasi,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya hilirisasi produk pertanian untuk meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan petani. “Hilirisasi tidak hanya untuk sektor tambang, tetapi juga pertanian. Ini bisa membuka lapangan kerja baru,” ujarnya.

Saat ini, harga jagung di tingkat petani PPU sekitar Rp5 juta per ton, sementara harga nasional mencapai Rp6-7 juta per ton. Selisih ini menunjukkan perlunya kemitraan industri untuk memastikan pemasaran lebih menguntungkan petani.

Mudyat berharap PPU tidak hanya mencapai swasembada pangan, tetapi juga swasembada daging. Ia ingin mengembangkan pertanian terpadu, menggabungkan tanaman pangan, peternakan sapi, dan perikanan, mengikuti model sukses di Jawa Tengah.

“Dengan memanfaatkan limbah ternak sebagai pupuk, kita bisa wujudkan kemandirian pangan. Ini peluang besar yang harus dikelola serius,” pungkasnya.

Kegiatan panen ditutup dengan penyerahan bibit jagung kepada petani dan personel Polres PPU, dilanjutkan dengan penanaman bibit baru di lahan Kelompok Tani “Sawit Lestari”. (adv/diskominfo-ppu)

Leave A Reply

Your email address will not be published.