Portal Berita Online & Advertising

Jelay, Pangan Lokal Khas Kaltim yang Punya Potensi Ekonomis Tinggi

0 768

Saskindo Media, Samarinda – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mulai kembali menyoroti potensi jelai atau jelay sebagai komoditas pangan lokal bernilai tinggi. Tanaman yang dahulu digunakan masyarakat adat dalam berbagai upacara tradisional ini dinilai memiliki peluang ekonomi besar, bahkan telah menembus pasar ekspor dengan harga premium.

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim, Kosasih, menyebut jelai yang banyak tumbuh di kawasan Loa Kulu itu bukan sekadar tanaman tradisional. Kandungan karbohidratnya tinggi dan manfaat kesehatannya telah diteliti secara akademis.

“Saya mengembangkan jelai itu sejak lama. Di kampung sering disebut ‘hanjeli’ karena bentuknya mirip manik-manik. Kandungan nutrisinya luar biasa, dan ini pangan lokal yang sebenarnya sudah lama ada,” ungkapnya, Rabu (3/12/2025).

Menurut Kosasih, jelai kini bahkan menjadi komoditas yang memiliki potensi ekonomi yang cukup menjanjikan karena dipakai sebagai bahan makanan premium di Jepang.

“Di Jepang harganya bisa Rp400.000 sampai Rp450.000 per kilogram. Di sana itu dipakai untuk menu premium seperti sashimi dan sushi,” jelasnya.

Ia bercerita pernah membudidayakan jelai di Bogor, Kaltim, hingga Kalteng, dengan hasil yang menurutnya cukup baik.

“Dulu saya kemas seperempat kilo, jual Rp25.000, dan laku. Bahkan ada profesor yang rutin makan jelai dan gula darahnya membaik,” ujarnya.

Jelai memiliki beberapa jenis yang dikenal dalam literatur botani dan pertanian. Yang paling umum adalah Coix lacryma-jobi var. ma-yuen, yaitu jenis yang bijinya dapat dimakan (food-grade). Varian ini banyak dibudidayakan di Asia Timur dan Asia Tenggara. Sementara jenis Coix lacryma-jobi var. lacryma-jobi biasanya memiliki kulit lebih keras dan digunakan sebagai bahan kerajinan, manik-manik, atau kebutuhan ritual adat.

Secara agronomis, jelai termasuk tanaman yang tahan kekeringan, cocok untuk lahan suboptimal, dan memiliki siklus tanam relatif singkat yakni sekitar 4–5 bulan. Bijinya dapat tumbuh baik di tanah bertekstur ringan hingga sedang, dengan kebutuhan air yang tidak setinggi padi, sehingga lebih efisien bagi petani kecil di daerah pedalaman maupun lereng.

Dari sisi gizi, jelai mengandung karbohidrat kompleks, serat tinggi, protein nabati, zat besi, magnesium, serta senyawa bioaktif seperti coixenolide yang diteliti memiliki potensi antioksidan dan antiinflamasi. Di Cina, Korea, dan Jepang, jelai telah lama digunakan sebagai bahan pangan fungsional untuk menurunkan kadar gula darah, meningkatkan imunitas, hingga menjaga kesehatan pencernaan.

Secara global, jelai juga berkembang dalam bentuk produk olahan modern seperti tepung jelai, mie jelai, bubur instan, minuman beras jelai, granola berbasis jelai, hingga olahan fermentasi. Pasar pangan sehat (healthy food) di Asia dan Eropa menjadi konsumen utama jenis ini.

Kosasih menilai jelai memiliki peluang besar dikembangkan secara komersial di Kaltim, terutama apabila didorong melalui kebijakan hilirisasi pertanian seperti yang ditekankan dalam Jospol. Program tersebut mendorong diversifikasi pangan, peningkatan nilai tambah komoditas lokal, serta penguatan kesejahteraan petani melalui pemanfaatan sumber daya daerah secara optimal.

Ia menambahkan bahwa jelai bukan barang baru dalam budaya Kaltim. Dalam sejumlah ritual adat Dayak, termasuk Hudoq, jelai menjadi bahan utama hidangan tradisional. Namun belakangan, generasi muda semakin jarang mengenal pangan tersebut.

“Sekarang generasi muda mulai lupa. Ini yang harus kita kenalkan lagi,” katanya.

Menurut Kosasih, potensi pengembangan jelai terbuka luas. Selain bernilai ekonomis tinggi, jelai dapat didorong masuk dalam program kemandirian pangan desa, diversifikasi konsumsi, hingga industri kuliner kreatif.

“Potensi kita banyak. Ada jelai, pisang kepok, singkong, jagung. Kalau dikelola serius, kita tidak perlu bergantung penuh pada beras. Jelai bisa jadi alternatif pangan unggulan,” tuturnya.

Ia berharap pengembangan jelai mendapat dukungan lintas sektor agar dapat menjadi bagian dari strategi besar pembangunan pangan Kaltim serta memperkuat sektor pertanian sebagaimana arah kebijakan Jospol.

“Ini pangan lokal kita. Dan ini bisa jadi peluang ekonomi besar bagi petani,” pungkasnya. (ain)

Leave A Reply

Your email address will not be published.