Portal Berita Online & Advertising

Ketika GRATISPOL Menjadi Nafas Baru Bagi Seorang Yatim Piatu Yang Tidak Menyerah

Fatimah dan Jalan Sunyi Menuju Pendidikan

0 729

Saskindo Media, Samarinda – Di antara ratusan mahasiswa pascasarjana yang memenuhi lorong-lorong UINSI Samarinda setiap hari, ada satu sosok yang berjalan dengan langkah yang tampak biasa, namun di baliknya tersimpan keteguhan yang jarang dimiliki orang seusianya. Dia adalah Siti Fatimah Sari, akrab dipanggil Fatimah, mahasiswa S2 Ilmu Al-Qur’an & Tafsir. Kisahnya bukan sekadar tentang seorang penerima beasiswa, tetapi tentang bagaimana seorang perempuan muda yatim piatu bertahan, berjuang, dan akhirnya mendapatkan pintu kecil menuju mimpinya.

Fatimah mengetahui program Gratispol dari orang sekitar, tetapi pada saat itu ia bahkan tidak yakin kesempatan itu benar-benar nyata untuknya. Sejak kedua orang tuanya meninggal saat ia masih sekolah, seluruh biaya pendidikan dari S1 sampai rencana melanjutkan S2 harus ia tanggung seorang diri. Ia bekerja sebagai pegawai honor, menyisihkan sedikit demi sedikit gaji untuk modal kuliah. Namun ketika jadwal pembayaran UKT S2 semakin dekat, tabungannya belum cukup.

“Saya sempat bingung cari uang buat bayar UKT,” ujarnya, Senin (1/12/2025).

Detik-detik menjelang batas pembayaran, kabar itu datang, ia diterima sebagai penerima Gratispol. “Sangat senang terbantu sekali,” katanya pelan.

Bagi sebagian orang, Gratispol adalah beasiswa. Bagi Fatimah, Gratispol adalah penyelamat langkah. Ia akhirnya bisa melanjutkan pendidikan S2 tanpa harus menunda impian yang sudah ia perjuangkan sejak lama.

Latar belakang keluarganya tak selalu mendukung kemudahan. Dari enam bersaudara, dialah satu-satunya yang menerobos batas pendidikan hingga pascasarjana. Ia perempuan 25 tahun dari lingkungan yang masih kerap menekan perempuan untuk cepat menikah. Namun Fatimah memilih jalannya sendiri.

“Menikah itu tidak bisa diprediksi. Pendidikan bisa,” katanya, mantap.

Meski begitu, stigma tetap membayangi, ditambah kekhawatiran keluarga bahwa ia mungkin berhenti kuliah di tengah jalan karena kendala biaya.

Namun semua itu tidak menghentikannya. Ia mendaftar S2 secara diam-diam lalu mencoba Gratispol. Dan di titik paling genting, ia diterima.

“Tertatih-tatih bisa sampai detik ini, karena saya berproses seorang diri,” katanya lirih.

Baginya, perjuangan ini bukan hanya tentang gelar, tetapi tentang menghormati kedua orang tua yang sudah tiada, yang pernah mengajarinya menjadi manusia yang bermanfaat.

“Al-Fatihah untuk orang tuaku yang telah mendidikku jadi perempuan bermental baja,” ucapnya.

Meski merasa sangat terbantu, Fatimah menyampaikan pandangan jujur yang penting. Menurutnya, Gratispol adalah program yang sangat baik, tetapi masih perlu diperkuat agar tepat sasaran. Ia berharap prioritas diberikan pada mahasiswa yang benar-benar membutuhkan dan memiliki tekad serta prestasi, bukan mereka yang sebenarnya mampu secara ekonomi.

Kritiknya tidak menyerang, ia membangun. Ia ingin Gratispol menjadi program yang dampaknya benar-benar terasa dan memiliki seleksi yang mempertimbangkan visi studi dan komitmen penerimanya.

Harapan Fatimah sederhana namun bercahaya, ia ingin Gratispol berjalan lebih tertata, lebih adil, dan lebih fokus membantu generasi muda yang sungguh-sungguh ingin belajar. Dan suatu hari nanti, ia ingin kembali ke masyarakat sebagai agent of change di bidang pendidikan di Kalimantan Timur.

Di dunia yang sering menyulitkan anak-anak tanpa orang tua, Fatimah membuktikan bahwa tekad bisa berdiri menggantikan kehilangan. Dan ketika perjuangan panjang itu akhirnya dipertemukan dengan program seperti Gratispol, sebuah mimpi yang hampir redup bisa kembali menyala, lebih terang dari sebelumnya. (ain)

Leave A Reply

Your email address will not be published.