Portal Berita Online & Advertising

Pelita Baru dari Gratispol: Kisah Putra Ananda, Anak Ojol yang Kini Menjejak Mimpi di Kampus

0 670

Saskindo Media, Samarinda – Di tengah hiruk pikuk Kota Samarinda, ada kisah kecil namun hangat tentang seorang anak yang berusaha menembus batas ekonomi keluarganya. Namanya Putra Ananda, mahasiswa semester 1 Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) UINSI Samarinda. Putra adalah satu dari ribuan penerima manfaat Gratispol (Gratis Pendidikan Kuliah), program bantuan pendidikan yang kini menjadi harapan baru bagi banyak anak muda di Kalimantan Timur.

Putra pertama kali mengenal Gratispol bukan dari media sosial atau brosur kampus, tetapi dari sosok paling dekat yang selalu mendorongnya untuk terus sekolah, Informasi itu datang dari ayahnya sendiri.

“Saya tahu Gratispol dari Ayah,” ujarnya pelan.

Pada pandangan pertama, program ini terdengar seperti angin segar, namun baginya, Gratispol lebih dari sekadar bantuan biaya kuliah, program ini adalah pintu yang membuka jalan hidup baru.

Ketika resmi dinyatakan sebagai penerima, Putra mengaku perasaannya campur aduk, bahagia, lega, dan terharu semua terbungkus dalam raut senyum syukur yang terpancar.

“Sangat senang sekali,” katanya dengan senyum yang tak bisa ia sembunyikan.

Ia paham betul bahwa di luar sana ada banyak anak seusianya yang ingin kuliah, namun langkah mereka tertahan oleh keterbatasan ekonomi. Karena itu, ia merasa keberadaan Gratispol adalah jawaban bagi mereka yang nyaris kehilangan harapan.

“Program ini sangat membantu orang-orang yang ingin berkuliah tapi terkendala ekonomi,” tegasnya.

Putra lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang pengemudi ojek online, sementara ibunya mengelola sebuah angkringan kecil. Keduanya bekerja keras, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga untuk memastikan anak mereka bisa menempuh pendidikan lebih tinggi. Ketika Gratispol datang, beban itu terasa seolah terangkat sebagian.

“Gratispol sangat berpengaruh, mengurangi beban kedua orang tua saya,” ujar Putra.

Kini, setiap hari sepulang kuliah, Putra selalu pulang membantu ibunya menjaga angkringan. Ia tahu betul bagaimana setiap rupiah yang dihasilkan keluarganya memiliki nilai perjuangan. Karena itu, ia merasa bertanggung jawab untuk belajar sungguh-sungguh, agar kepercayaan keluarganya dan program Gratispol tidak disia-siakan.

Ditanya soal harapannya terhadap Gratispol, Putra menjawab dengan tulus.

“Semoga konsisten ke depannya, agar banyak membantu orang yang ingin kuliah tapi terkendala ekonomi,” harapnya.

Di antara riuhnya pembangunan dan berbagai agenda besar pemerintah, kisah Putra mengingatkan bahwa pada akhirnya, pendidikan bukan hanya soal kampus atau gelar tetapi tentang memutus rantai keterbatasan. Dan Gratispol, baginya, bukan hanya program. Ia adalah jalan menuju masa depan. (ain)

Leave A Reply

Your email address will not be published.