Portal Berita Online & Advertising

Desa Ponoragan Rayakan Sedekah Bumi, Wujud Syukur atas Hasil Alam

0 549

Saskindo Media, Kutai Kartanegara – Pemerintah Desa Ponoragan, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), mengadakan tradisi Sedekah Bumi yang berlangsung meriah di halaman Kantor Desa Ponoragan, Rabu (28/5/2025). Acara ini dihadiri oleh Camat Loa Kulu, Bunda PAUD Maslianawati, tokoh masyarakat, serta warga setempat.

Sedekah Bumi merupakan ritual tahunan yang terus dilestarikan masyarakat Desa Ponoragan sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dan karunia alam dari Tuhan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat solidaritas antarwarga.

Sekretaris Daerah Kukar, Sunggono, dalam sambutannya menekankan bahwa tradisi ini memiliki nilai spiritual dan budaya yang mendalam.

“Sedekah Bumi mengajarkan bahwa tanah yang subur bukan sekadar tempat bercocok tanam, melainkan juga tempat bersujud,” ujarnya.

Ia juga mengutip pandangan budayawan Emha Ainun Nadjib tentang pentingnya menghubungkan spiritualitas dengan pertanian.

“Masyarakat Jawa, termasuk kita di Kutai yang masih memegang adat, tidak hanya menanam padi, tetapi juga menanam doa. Tidak hanya mengolah tanah, tetapi juga mengolah rasa syukur,” jelas Sunggono.

Menurutnya, upaya warga Ponoragan mempertahankan tradisi ini sejalan dengan visi Kukar sebagai daerah yang menghargai budaya dan pendidikan.

“Inisiatif warga Ponorogan hari ini mencerminkan Kukar yang kita impikan: masyarakat mandiri, berdaya, dan tetap menjunjung nilai-nilai budaya serta pendidikan,” tegasnya.

Sunggono juga menyatakan komitmennya untuk mendukung pembangunan fasilitas pendidikan, khususnya di pedesaan. Ia menyebut infrastruktur pendidikan sebagai investasi jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat.

“Hari ini kita menyaksikan dua hal penting: menanam harapan lewat pendidikan dan merawat keberkahan melalui tradisi,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Ponoragan, Sarmin, menjelaskan bahwa Sedekah Bumi adalah wujud terima kasih atas hasil bumi yang dinikmati masyarakat.

“Acara tahunan ini, yang kami sebut Sedekah Bumi atau Bersih Desa, adalah bentuk syukur atas rezeki yang diberikan alam. Kita harus bersyukur kepada Tuhan atas kesehatan, usaha, dan sumber daya alam di desa ini,” kata Sarmin.

Ia berharap generasi muda dapat terus melanjutkan tradisi ini sebagai bagian dari identitas budaya desa.

“Kelestarian tradisi ini bergantung pada generasi muda. Jika mereka peduli, insyaallah budaya ini akan tetap hidup,” pungkasnya. (adv/diskominfo-kukar)

Leave A Reply

Your email address will not be published.